Sisa Gajah 539 Ekor CRU-Barrier Gajah Solusi Penyelamatan

HILANGNYA hutan Aceh maka jumlah populasi Gajah Indonesia akan terus berfluktuasi. Harapan News/M IshakHILANGNYA hutan Aceh maka jumlah populasi Gajah Indonesia akan terus berfluktuasi. Harapan News/M Ishak

TAPAKTUAN (Harapan News): Populasi Gajah Sumatera (Elephans Maximus Sumatrensis) saat ini di Aceh sekitar 539 ekor. Transformasi habitat atau pembukaan kawasan hutan menjadi kebun adalah masalah paling serius, padahal Gajah berfungsi secara ekologi dan ekosistim dibidang konservasi.

“Sisa Gajah Sumatera didaerah kita saat ini 539 ekor,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo, menjawab Harapan News, Kamis (10/1). Berdasarkan data yang dicatat BKSDA Aceh, jumlah Gajah yang mati Tahun 2018 mencapai 11 ekor, termasuk gajah jinak Bunta yang mati dibunuh di CRU Serbajadi Lokop, Aceh Timur.

Dijelaskan, kelompok Gajah Sumatera tersebar disejumlah kantung habitat seperti Lokop, Peunarun (Aceh Timur), Cot Girek (Aceh Utara) dengan jumlah terbesar mencapai 200 ekor. Selain itu, satwa liar dilindungi ini juga bersarang di Bengkung-Trumon (Aceh Selatan dan Singkil) dengan jumlah di bawah 100 ekor. Beberapa kabupaten lain juga menjadi habitat Gajah Sumatera seperti Betong (Nagan Raya), Sampoinit (Aceh Jaya), Peusangan (Bireun), Pidie dan Pidie Jaya.

Untuk menjaga kelestarian Gajah, lanjut Sapto, Pemerintah Aceh bersama BKSDA Aceh dalam beberapa tahun terakhir telah menjawab tantangan pengelolaan Gajah dengan membangun tujuh Conservation Respon Unit (CRU). Tujuannya untuk merespon cepat gangguan gajah dititik lokasi konflik Gajah.

“Kehadiran CRU kita harap dapat mengurangi resiko konflik Gajah,” tutur Sapto seraya menyebutkan, tujuh titik CRU yakni CRU Serbajadi (Aceh Timur), CRU Cot Girek (Aceh Utara), CRU DAS Peusangan (Bireun), CRU Gempang (Pidie), CRU Sampoinit Ligan (Aceh Jaya), CRU Trumon (Aceh Selatan), CRU Woila (Aceh Barat).

“Kita akui keberadaan CRU belum optimal, tapi kedepan kita harap dapat menjawab tantangan krisis Gajah di area yang rawan konflik Gajah di Aceh, karena negara ini telah hadir dalam menangani konflik Gajah dengan manusia,” timpal Sapto.

Manager Forum Konservasi Leuser (FKL) Rudi Putra, dikonfirmasi terpisah mengaku, dalam menyelamatkan gajah pihaknya telah membangun barrier (batas) antara kawasan konservasi dengan pemukiman dan perkebunan penduduk. “Barrier di Aceh Timur, sedang kita bangun dan dukungan semua pihak hampir selesai. Barrier Gajah di Subulussalam hingga ke Aceh Selatan, juga sedang dibangun. Ini solusi untuk mengurangi resiko konflik gajah,” katanya.

“Hilangnya hutan akan berdampak terhadap populasi Gajah di Aceh. Jadi, untuk menyelamatkan gajah, maka kawasan hutan harus dilestarikan. Jika selama ini pemerintah membiarkan hutan dirambah, maka ayo kita sama-sama mengembalikan kawasan hutan, sehingga gajah dan satwa liar lainnya bisa tumbuh dan berkembang didalamnya,” tandas Rudi Putra. (b24)


Artikel yang berjudul “Sisa Gajah 539 Ekor CRU-Barrier Gajah Solusi Penyelamatan” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *